Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Perkembangan konflik di Yaman telah mengubah perhitungan strategis Arab Saudi. Kemampuan militer Yaman untuk menjangkau wilayah strategis Riyadh, termasuk fasilitas minyak dan bandar udara, dinilai telah meningkatkan biaya keamanan dan ekonomi yang harus ditanggung Arab Saudi.
Dalam wawancara dengan ABNA, Zaid al-Gharsi menyatakan bahwa Yaman menerapkan strategi “blokade dibalas blokade” dan “eskalasi dibalas eskalasi” untuk meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi.
Yaman Ancam Membalas Setiap Serangan dengan Kekuatan Lebih Besar
Al-Gharsi menjelaskan bahwa strategi tersebut diterapkan melalui pembatasan jalur laut untuk ekspor minyak Arab Saudi serta serangan terhadap fasilitas perusahaan minyak Aramco.
Menurutnya, sekitar 70 persen anggaran Arab Saudi bergantung pada pendapatan minyak, sehingga gangguan terhadap kegiatan produksi dan ekspor dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.
Ia mencontohkan bahwa ketika koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan rencana serangan terhadap Bab el-Mandeb dengan melibatkan 100 pesawat, Yaman merespons dengan mengumumkan zona larangan terbang di wilayah udara Arab Saudi.
Al-Gharsi mengklaim bahwa tindakan tersebut menyebabkan pembatalan banyak penerbangan internasional dan gangguan terhadap ratusan layanan penerbangan.
Ia juga mengatakan bahwa berlanjutnya penutupan Bandara Sanaa oleh Arab Saudi dibalas dengan gangguan terhadap operasional Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta sejumlah bandara di wilayah Jizan dan Asir.
“Setiap tindakan Arab Saudi akan menghadapi balasan yang lebih kuat dan menyakitkan dari Yaman,” tegasnya.
Menurut Al-Gharsi, apabila Riyadh tetap menolak tuntutan Yaman untuk mengakhiri serangan, mencabut blokade, dan menarik pasukan yang dianggap sebagai kekuatan pendudukan, Sanaa akan terus meningkatkan operasinya tanpa membatasi tingkat eskalasi.
Ia menyatakan bahwa Yaman masih memiliki banyak sasaran potensial, sementara Arab Saudi dinilainya berada dalam kebuntuan militer.
Al-Gharsi bahkan memperingatkan bahwa perang berkepanjangan dapat memperburuk kondisi keuangan Arab Saudi hingga berpotensi mengganggu kemampuan pemerintah membayar gaji pegawai dan memaksanya mencari pinjaman luar negeri.
Teknologi Murah Yaman Dinilai Mampu Menghadapi Persenjataan Canggih
Menanggapi pertanyaan mengenai kemampuan Yaman menghadapi keunggulan persenjataan koalisi Arab Saudi dan dukungan teknologi Barat, Al-Gharsi menyebut keyakinan agama, kreativitas militer, dan pengembangan teknologi dalam negeri sebagai faktor utama.
Ia menyatakan bahwa pasukan Yaman telah mengembangkan berbagai taktik untuk menghadapi persenjataan modern dengan peralatan yang jauh lebih sederhana.
Sebagai contoh, ia mengklaim bahwa pasukan Yaman pernah menghancurkan tank Abrams buatan Amerika Serikat yang bernilai jutaan dolar dengan menggunakan alat sederhana berupa korek api yang harganya kurang dari seperempat dolar.
Selain itu, Yaman mengandalkan strategi militer berbiaya rendah melalui pengembangan dan penggunaan pesawat nirawak atau drone.
Menurut Al-Gharsi, penggunaan drone dan rudal yang relatif murah telah meningkatkan tekanan terhadap kekuatan militer lawan dan menguras kemampuan sistem pertahanan udara berbiaya tinggi, termasuk Patriot.
Ia juga mengutip penilaian yang dikaitkannya dengan pihak Amerika Serikat mengenai penggunaan senjata bernilai dua hingga empat juta dolar untuk menghadapi drone bernilai sepuluh juta dolar.
Menurutnya, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan teknologi dan besarnya anggaran militer tidak selalu menentukan hasil peperangan.
Penguasaan Bab el-Mandeb Disebut Mengubah Keseimbangan Militer
Al-Gharsi menilai penguasaan Selat Bab el-Mandeb sebagai perkembangan strategis yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.
Ia mengatakan bahwa sebelum perkembangan terbaru sekalipun, pasukan Yaman telah memiliki kemampuan menjangkau selat tersebut dengan persenjataan jarak jauh, termasuk ketika wilayah di sekitarnya masih dikuasai pasukan koalisi Arab Saudi.
Menurutnya, kemampuan tersebut terlihat selama operasi yang berkaitan dengan Badai Al-Aqsa. Ia mengklaim bahwa ratusan kapal Israel, Amerika Serikat, dan Inggris telah ditenggelamkan di kawasan Bab el-Mandeb. Klaim mengenai jumlah kapal tersebut tidak disertai bukti terperinci dalam wawancara.
Al-Gharsi juga menyatakan bahwa Israel merupakan pihak yang paling mengkhawatirkan meningkatnya penguasaan Yaman atas Bab el-Mandeb dan kawasan Mokha.
Menurutnya, Israel memandang Bab el-Mandeb sebagai gerbang strategis di bagian selatan. Ia mengklaim bahwa Benjamin Netanyahu pernah berupaya mempertemukan pejabat Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk mendukung perebutan kembali wilayah tersebut, tetapi upaya itu tidak berhasil.
Lebih lanjut, Al-Gharsi menjelaskan bahwa strategi militer Yaman kini tidak hanya berfokus pada pertahanan wilayah perbatasan, tetapi juga mencakup operasi pendahuluan terhadap pusat konsentrasi pasukan lawan dan sasaran strategis di wilayah Arab Saudi.
Menurutnya, langkah tersebut berhasil mengganggu rencana operasi koalisi dan membatasi pergerakan militernya.
Serangan terhadap Bandara Dinilai Mengurangi Kepercayaan Investor
Dalam pembahasan mengenai dampak ekonomi perang, Al-Gharsi menyatakan bahwa Arab Saudi selama ini mengandalkan citra keamanan nasional yang stabil untuk menarik investasi internasional.
Namun, menurutnya, serangan Yaman terhadap fasilitas strategis, khususnya bandar udara dan infrastruktur minyak, telah melemahkan citra tersebut.
Ia menilai gangguan penerbangan internasional dan ancaman terhadap keamanan wilayah Arab Saudi dapat mengurangi kepercayaan investor serta mendorong penundaan sejumlah proyek ekonomi.
Al-Gharsi juga mengklaim bahwa beberapa perusahaan investasi telah meninggalkan Arab Saudi dan sejumlah proyek besar yang sebelumnya diumumkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengalami penangguhan.
Menurutnya, meskipun terdapat penjelasan lain mengenai kondisi ekonomi tersebut, serangan balasan Yaman merupakan faktor utama yang memengaruhi persepsi keamanan dan investasi di Arab Saudi.
Yaman Ingin Berperan dalam Pembentukan Tatanan Baru Kawasan
Pada bagian akhir wawancara, Al-Gharsi menegaskan bahwa Yaman tidak hanya berupaya mengubah keseimbangan kekuatan di dalam negeri, tetapi juga ingin memainkan peran yang lebih besar dalam perkembangan politik dan keamanan kawasan.
Ia mengklaim bahwa Yaman kini menjadi kekuatan yang mampu memengaruhi perhitungan strategis regional maupun internasional.
Menurutnya, bersama kelompok-kelompok yang tergabung dalam apa yang disebut sebagai Poros Perlawanan, Yaman berusaha menghadapi dominasi Amerika Serikat dan Israel serta membentuk tatanan kawasan yang berbeda dari kepentingan kedua negara tersebut.
Al-Gharsi menyatakan bahwa Yaman telah membebaskan diri dari pengaruh dan kendali Amerika Serikat serta Arab Saudi dan sedang memperkuat kedudukannya sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Ia menegaskan bahwa kebebasan, kedaulatan, dan kemerdekaan merupakan tujuan yang tidak dapat ditawar. “Yaman akan memaksakan kehendaknya kepada pihak-pihak yang melakukan agresi dan mencapai tujuannya dalam bidang kebebasan, kedaulatan, dan kemerdekaan. Arab Saudi harus memahami kenyataan ini sekarang, bukan setelah mengalami kerugian besar yang tidak lagi mampu ditanggungnya pada masa mendatang,” tegas Al-Gharsi.
Komentar Anda